Sunday, May 27, 2012

Tentang Perjalanan, Masa Lalu dan Masa Depan

Perjalanan adalah sebuah hal yang menuntun pada keingintahuan yang sederhana. Hingga keingintahuan tersebut bertransformasi menjadi hobby kemudian menjadi bagian dari kehidupan yang tengah berlangsung.

Ketika sebuah paradigma perjalanan telah terlewati, entah itu indah atau tidak, apapun bentuknya maka akan berubah judulnya menjadi masa lalu. Bagi sebagian orang masa lalu bukanlah apa-apa. Hanya sekelumit kisah yang sudah usang, yang kisahnya cukup di simpan dalam cabinet-kabinet ingatan untuk ditarik kembali ketika diperlukan.

Ahh, melelahkan memang ketika membicarakan sebuah hal dengan beberapa pasang mata, telinga dan mulut-mulut yang siap mengeluarkan statement atas ketidak setujuannya dengan topic pembahasan yang telah dikemukakan. Tujuan utamanya hanyalah ingin berbagi apa yang mengendap dalam pikirian ini, bukan untuk dikomentari. Sungguh tidak butuh.

Mengenai masa lalu, ketika kata-kata ‘masa lalu’ terlontar entah dari mulut siapa, spontan memori dalam otak ini begitu cepatnya bekerja. Menampilkan beberapa moment-moment yang paling mudah diingat. Misalnya tentang perahu kertas yang di hanyutkan di tepi sungai, kehujanan di tengah-tengah pasar malam, potongan cokelat di saku celana dan kartu nama psikiater yang tersimpan rapi di dalam laci meja untuk para penderita insomnia.

Yang anehnya ketika pertunjukan masa lalu didalam otak ini tengah berlangsung, susah sekali untuk mematikannya. Padahal sudah berusaha setengah mati membayangkan hal-hal yang berlawanan dari masa lalu yaitu masa depan. Apakah kiamat benar-benar terjadi pada tahun 2012?, Mimpi-mimpi yang belum terealisasikan, cita-cita menjadi seorang dokter/pilot/presiden yang tidak akan terwujud, berkeliling dunia dalam kurun waktu 7 hari. Itu semua tidak bisa ditayangkan bersamaan dalam waktu yang bersamaan ketika film masa lalu telah diputar.

Perjalanan, masa lalu dan masa depan adalah 3 hal yang wajib dimiliki oleh kita, manusia..

Kamu dan Senja

Mungkin..

Tidak banyak kata yang akan aku tuliskan melalui rangkaian puluhan kalimat ini, karena aku tau kamu pasti tidak punya banyak waktu untuk membacanya apalagi untuk mengerti setiap lekukan maknanya..

Ehh, kamu masih ingat kan ketika kita berburu senja demi mencari inspirasi untuk di salurkan menjadi sebuah tulisan? Kemudian kita selalu bertemu di tempat yang sama, berpijak di tanah yang sama, aku dan kamu berada dalam kebingungan yang sama, sungguh kebetulan yang sangat menyenangkan, bagi ku..

Hingga pada suatu hari kita tidak bertemu di tempat yang sama. Saat itu pikiran buruk mulai menggerogoti seluruh hati ku. Statement demi statement yang berbau negative mulai menguasai rasa ku.
Mungkin kamu bosan melihat aku yang selalu hadir bersama senja tercinta mu.. Mungkin satu hari ini kamu ingin absen memintal kata bersama dengan ku.. Mungkin...mungkin dan masih banyak kemungkinan lain yang tidak bisa aku pastikan kebenarannya.

Sejak hari itu, kamu tak pernah terlihat lagi oleh ku. Semakin aku berusaha mencari, kamu semakin menghilang. Bahkan kamu juga tak mengizinkan bayangan mu bertemu dengan ku. Apa salah ku?
Jika hanya kamu dan bayangan mu saja yang menghilang, aku tidak akan merasa kehilangan yang teramat sangat seperti ini. Kamu juga mencuri senja ku, senja kita. Tidak lagi ku temukan keindahan dan ketenagan di balik segaris senja setelahnya.

Ku buka lagi lembar demi lembar tumpukan kertas-kertas putih yang berisi tulisan-tulisan ketika aku masih diperkenankan melihat wujud mu. Ku baca dan ku cermati berulang kali, berharap aku bisa menyusun mozaik-mozaik kata itu agar membentuk jawaban atas segala misteri tentang lenyapnya diri mu. Tapi, nihil –